Pengertian Sistem Tanam Paksa (Cultuurstelsel), Tujuan, Ketentuan dan Dampak Sistem Tanam Paksa serta Tokoh-tokoh Penentang Tanam Paksa

Loading...
Berikut ini adalah pembahasan tentang sistem tanam paksa yang meliputi sistem tanam paksa, pengertian sistem tanam paksa, tujuan sistem tanam paksa, pengertian tanam paksa, tujuan tanam paksa, akibat tanam paksa, pencetus tanam paksa, tokoh penentang tanam paksa, penyimpangan sistem tanam paksa, ketentuan sistem tanam paksa, penggagas sistem tanam paksa, Cultur Stelesel, dampak tanam paksa, dampak positif tanam paksa, pengertian cultuurstelsel, dampak positif sistem tanam paksa, tokoh tokoh penentang tanam paksa.

Latar Belakang Munculnya Sistem Tanam Paksa

Berakhirnya kekuasaan VOC di Indonesia pada 31 Desember 1799 menyebabkan kekuasaan Belanda semakin memudar. Di sisi lain pada saat yang bersamaan kongsi dagang Inggris semakin mengalami perkembangan.

Hal ini membuat pemerintah Hindia Belanda semakin gencar untuk mempertahankan wilayah kekuasaan Belanda di Indonesia. Belanda mengangkat Herman Willem Daendels untuk mengatur pemerintahan di Indonesia sekaligus mempertahankan Pulau Jawa dari serangan Inggris.
Herman Willem Daendels dan Kebijakannya
Gambar: Herman Willem Daendels dan Kebijakannya

Untuk tugas-tugas ini, Daendels melakukan tindakan-tindakan sebagai berikut:
  1. pemindahan pusat pemerintahan lebih ke pedalaman, 
  2. menambah jumlah prajurit, 
  3. membangun benteng-benteng pertahanan, 
  4. membuat jalan dari Anyer ke Panarukan, 
  5. mengadakan Preanger Stelsel, dan 
  6. rakyat dipaksa untuk kerja rodi.

Dalam perkembangan selanjutnya, semakin buruknya perekonomian Belanda mengakibatkan gejolak tersendiri di kalangan mereka.

Siasat yang dilancarkan Belanda dalam rangka memperbaiki keuangan mereka serta menguasai Indonesia akhirnya dirubah, semula menggunakan politik monopoli menjadi politik bebas.

Melalui rekomendasi Johannes Van de Bosch, seorang ahli keuangan Belanda ditetapkanlah dan Sistem Tanam Paksa atau Cultur Stelesel tahun 1830.

Pengertian Sistem Tanam Paksa (Cultur Stelesel)

Sistem Tanam Paksa (Cultur Stelesel) adalah peraturan yang dikeluarkan oleh Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch pada tahun 1830 yang mewajibkan setiap desa menyisihkan sebagian tanahnya (20%) untuk ditanami komoditi ekspor, khususnya kopi, tebu, dan tarum (nila). Hasil tanaman ini akan dijual kepada pemerintah kolonial dengan harga yang sudah dipastikan dan hasil panen diserahkan kepada pemerintah kolonial. Penduduk desa yang tidak memiliki tanah harus bekerja 75 hari dalam setahun (20%) pada kebun-kebun milik pemerintah yang menjadi semacam pajak. (Wikipedia)

Tujuan Sistem Tanam Paksa

Tujuan Sistem Tanam Paksa adalah untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya. Tujuannya untuk mengisi kekosongan kas Belanda yang pada saat itu terkuras habis akibat perang.

Ketentuan Sistem Tanam Paksa

Terdapat beberapa peraturan yang ditetapkan Belanda dalam rangka melaksanakan Sistem Tanam Paksa:
  1. rakyat harus menyediakan seperlima dari tanah miliknya untuk tanaman ekspor, seperti kopi, tebu, teh dan tembakau, serta tanah tersebut harus bebas pajak tanah;
  2. waktu tanam dari setiap tanaman tersebut tidak boleh lebih dari waktu pemeliharaan padi;
  3. kerusakan tanaman akibat bencana alam ditanggung oleh pemerintah Belanda;
  4. hasil tanaman rakyat tersebut harus diserahkan kepada Belanda dengan harga yang yang telah ditentukan oleh pemerintah Belanda;
  5. bagi petani yang tidak memiliki tanah dipekerjakan pada perkebunan atau pabrik milik pemerintah selama 66 hari.

Penyimpangan Sistem Tanam Paksa

Adanya Sistem Tanam Paksa sangat merugikan rakyat, karena selain pelaksanaannya yang tidak sesuai aturan diperparah lagi oleh banyaknya penyimpangan yang dilakukan para pengusaha pribumi.

Mereka ingin menambah upah pengawasan dengan cara menekan rakyat seperti penyediaan tanah tidak seperlima lagi, tapi setengahnya; desa yang memiliki tanah subur semuanya digunakan untuk tanam paksa; semua kerusakan dan kegagalan panen akan ditanggung oleh petani dan rakyat.

Dampak dan Akibat Sistem tanam Paksa

Akibat dari kegiatan tanam paksa, rakyat Indonesia menderita kemiskinan yang berkepanjangan, kelaparan dan kematian terjadi di mana-mana. 
Sementara bagi Belanda merupakan ladang ekonomi yang banyak mendapatkan keuntungan. Kas Belanda yang asalnya kosong dapat dipenuhi kembali, kemudian secara berangsur-angsur utang Belanda dapat dilunasi dan menjadikan Belanda sebagai negara yang tidak mengalami kesulitan keuangan.

Tokoh-tokoh Penentang Sistem Tanam Paksa

Praktik tanam paksa menimbulkan reaksi dan sikap prihatin dari beberapa kalangan di antaranya sebagai berikut.
  1. Baron Van Hovel, seorang misionaris yang menyatakan bahwa tanam paksa adalah suatu tindakan yang tidak manusiawi, karena menyebabkan rakyat sangat menderita.
  2. E.F.E Douwes Dekker, seorang pejabat Belanda yang merasa prihatin terhadap penderitaan rakyat Indonesia, menulis buku berjudul Max Havelaar yang isinya menceritakan tentang penderitaan rakyat Indonesia akibat Sistem Tanam Paksa.
  3. Golongan pengusaha atau kaum liberalis yang menghendaki kebebasan dalam berusaha.

0 Response to "Pengertian Sistem Tanam Paksa (Cultuurstelsel), Tujuan, Ketentuan dan Dampak Sistem Tanam Paksa serta Tokoh-tokoh Penentang Tanam Paksa"

Post a Comment