Faktor-faktor Penyebab Terjadinya Penyimpangan Sosial dan Upaya Pencegahannya

Berikut inia dalah pembahasan tentang penyebab-penyebab terjadinya penyimpangan sosial dan upaya-upaya pencegahan penyimpangan sosial.

Penyebab Terjadinya Penyimpangan Sosial

Secara faktual manusia adalah makhluk sosial yang diciptakan Allah Swt yang paling sempurna. Oleh karena itu, dalam melaksanakan interaktifnya, manusia membutuhkan kehadiran orang lain.

Sejalan dengan kehadiran orang lain, manusia kemudian saling memengaruhi antara satu dengan yang lainnya. Pengaruh tersebut bermula dari lingkungan keluarga, selanjutnya merebak pada pergaulan di masyarakat.

Adapun penyebab munculnya penyimpangan sosial yang berasal dari lingkungan keluarga di antaranya sebagai berikut.

1. Ketidakharmonisan Rumah Tangga

Salah satu penyebab retaknya keharmonisan rumah tangga adalah pergaulan antara lelaki dan perempuan di kantor-kantor tidak terjaga. Dengan paras yang menggoda, ruangan yang tanpa batas, serta pertemuan yang intensif setiap hari akan menciptakan hubungan teman tapi mesra (TTM).

Dampaknya, yang bersangkutan bisa selingkuh, zinah, dan penyimpangan sosial lainnya yang tidak sesuai dengan norma-norma agama. Kondisi ini, disadari atau tidak akan melemahkan keharmonisan rumah tangga, bahkan menimbulkan perceraian.

2. Kejahatan Seksual

Fenomena kejahatan seksual akhir-akhir ini sangat memprihatinkan. Misalnya, seorang bapak yang tega memerkosa anak tirinya hingga hamil; anak di bawah umur disodomi; dan pelecehan seks.

Kejahatan seksual melahirkan rasa rendah diri pihak korban, selain dirinya menjadi frustasi dan menanggung malu sepanjang hayat.

3. Terbawa Lingkungan dan Pergaulan

Trend dan model pergaulan yang disodorkan media elektronik dewasa ini sering kali menjadi rujukan para remaja di perkotaan dan pedesaan. Mulai dari asesoris, pakaian, rambut, hingga gaya hidup.

Sayangnya, peniruan yang dilakukan kaum muda itu tidak disaring dengan baik sehingga melahirkan penyimpangan sosial. Misalnya, aborsi, pergaulan bebas, penggunaan pakaian yang serba terbatas, atau terjerumus pada pemakaian obat-obat terlarang.

4. Lemahnya Kualitas Iman dan Takwa (IMTAQ)

Derasnya informasi melalui media cetak dan elektronik, bukan saja menimbulkan pengaruh positif, tetapi juga pengaruh negatif. Sebagai contoh, jam tayang sinetron televisi yang disukai para penonton, bertepatan dengan waktu shalat, sangat mengganggu kekhusyuan dalam melaksanakan ibadah.

Selain itu, banyak anak-anak dan remaja yang enggan berangkat mengaji karena penasaran oleh cerita sinetron. Kondisi tersebut disadari atau tidak merupakan cikal bakal melemahnya kualitas iman dan takwa (IMTAK) yang akhirnya berdampak pada perilaku menyimpang dalam pergaulan di masyarakat.

Upaya-upaya Pencegahan Penyimpangan Sosial

Agar penyimpangan sosial bisa dicegah, hal yang pertama dan utama adalah membenahi lingkungan keluarga terlebih dahulu. Adapun upaya pencegahan yang bermuara dari keluarga adalah sebagai berikut.

1. Wujudkan Lingkungan Keluarga yang Harmonis

Tatanan keluarga yang harmonis merupakan sarana lahirnya kehangatan dan kasih sayang. Dengan demikian, jiwa mereka tidak akan tertekan. Dengan ketenteraman yang dimiliki dari keluarga tidak akan terjadi penyimpangan sosial di masyarakatnya.

2. Meningkatkan Nilai Keimanan

Keluarga merupakan unit masyarakat yang paling mendasar. Oleh karena itu, peningkatan nilai keimanan yang diajarkan keluarga sangatlah penting.

Pengajaran keimanan yang berasal dari keluarga bisa memperkokoh dan menjadi benteng pada saat mereka berinteraksi dengan lingkungannya.

3. Komunikasi yang Efektif

Komunikasi yang efektif maksudnya terjalinnya keakraban antara orang tua dan anak. Dengan adanya keterbukaan antara anak dan orang tua diharapkan segala persoalan akan mudah dipecahkan. Dengan demikian, anak terhindar dari perbuatan yang menyimpang di tengah masyarakatnya.

4. Memenuhi Hak-Hak Anak

Salah satu tanggung jawab terberat orang tua adalah mendidik anak-anak menjadi manusia takwa. Untuk mencapai harapan tersebut, orang tua memiliki tugas, yakni memenuhi hak-hak anak, seperti mendidik, menjaga kesehatan, kebersihan, dan menanamkan moral serta akhlak kepada anak.
Mendidik Akhlak Anak sebagai bentuk Pemenuhan Hak Mereka
Gambar: Mendidik Akhlak Anak sebagai bentuk Pemenuhan Hak Mereka

Upaya mengatasi penyimpangan sosial dapat dilakukan pula dengan mengoptimalkan fungsi lembaga pendidikan, baik sekolah maupun perguruan tinggi.

Untuk sekolah dilakukan dengan cara memasukan materi pelajar yang berkaitan dengan akhlak atau budi pekerti ke dalam kurikulum, serta menggalakan program-program ekstrakulikuler yang berlandaskan nilai-nilai moral.

Lingkungan masyarakat juga dapat membantu mencegah penyimpangan sosial. Caranya dengan menciptakan kontrol sosial di lingkungan masyarakat berupa tata tertib yang di buat bersama, seperti dengan mengadakan program siskamling; penyuluhan narkoba kepada remaja; layanan konsultasi kesehatan; dan sebagainya.

Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik benang merahnya bahwa terdapat tiga lingkungan utama yang bisa diberdayakan dalam rangka mencegah penyimpangan sosial.

Ketiga lingkungan tersebut disebutkan oleh Ki Hajar Dewantara sebagai Tri Pusat Pendidikan, yaitu pendidikan di keluarga, sekolah dan lingkungan masyarakat.

Ketiganya harus bekerja sama secara terpadu. Pendidikan di lingkungan keluarga merupakan pondasi dari tiga pusat pendidikan tersebut.

Pihak yang menangani penyimpangan sosial

Manusia tidak mungkin bisa hidup sendiri tanpa bantuan dan kerja sama dengan manusia lainnya. Mereka membutuhkan kelompok dalam satu kesatuan yang disebut dengan masyarakat. Masyarakat kemudian menugaskan seseorang atau organisasi untuk mengatur dan memimpin mereka.

Jika terjadi perselisihan, pertikaian, konflik, dan perilaku yang tidak sesuai dengan adat istiadat, norma, dan budaya, pemimpin masyarakat kemudian akan menangani persoalan tersebut.

Demikin halnya dengan penanganan penyimpangan sosial. Pihak-pihak yang ikut terlibat, di antaranya pemerintah, masyarakat, dan keluarga. Berbagai upaya kerap dilakukan pemerintah mulai dari upaya preventif, edukasi, rehabilitatif, advokasi, rujukan, dan kontrol sosial.

Masyarakat membentuk lembaga swadaya di tingkat lokal, seperti G-Santun (Gerakan Sosial Anti Narkoba Medan Tuntungan), Gibas, Granat, FPI (Front Pembela Islam), dan sebagainya.

Eksistensi lembaga swadaya masyarakat ini sebagai upaya memutus mata rantai penyimpangan sosial yang sedang marak.

1 Response to "Faktor-faktor Penyebab Terjadinya Penyimpangan Sosial dan Upaya Pencegahannya"